Archive for September 2013
Hormon Tubuh yang Membuat Kita Sekuat Hercules
0
Ketika seseorang merasa takut atau dihadapkan pada situasi yang
berbahaya, maka tubuh manusia akan mengalami perubahan yang luar biasa.
Tiba-tiba tubuh menjadi kuat seperti tokoh legenda Hercules yang perkasa.
Ternyata memang ada hormon yang memicu tubuh mendadak menjadi kuat
layaknya tokoh Hercules. Sehingga jangan heran jika tiba-tiba dalam kondisi
darurat orang bisa mengangkat barang berat yang jika dalam kondisi normal tidak
mungkin dilakukan.
Rahasianya ada pada kerjasama dua hormon tubuh yakni adrenalin (epinefrin) dan noradrenalin (norepinefrin), yaitu hormon yang menciptakan keadaan agar bisa membantu kesiapan manusia untuk menghadapi bahaya.
Jadi ketika seseorang merasa takut atau dihadapkan pada situasi yang berbahaya tubuh akan merangsang hipotalamus, yaitu daerah di otak yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan antara stres dan relaksasi di dalam tubuh.
Saat ada peringatan bahaya, tubuh akan mengirimkan sinyal kimia ke kelenjar adrenalin untuk mengaktifkan sistem simpatik. Kelenjar ini kemudian akan mengeluarkan adrenalin dan noradrenalin.
Seperti dikutip dari Howstuffworks, hormon-hormon ini secara bersama-sama bisa meningkatkan denyut jantung, napas yang cepat, pupil mata membesar, memperlambat pencernaan serta memungkinkan otot untuk berkontraksi lebih besar dari biasanya.
Pelepasan hormon ini membuat tubuh lebih siap menghadapi bahaya, sehingga membuat seseorang menjadi lebih gesit, mendapatkan informasi lebih banyak serta membantu seseorang menggunakan lebih banyak energi.
Efek dari adrenalin meningkatkan jumlah massa otot dan kekuatan yang luar biasa. Adrenalin ini juga memungkinkan otot bekerja lebih kuat dibandingkan ketika tubuh dalam keadaan netral atau tenang.
Ketika adrenalin dilepaskan oleh adrenal medulla, darah menjadi lebih mudah mengalir ke otot yang berarti lebih banyak oksigen yang dibawa ke otot sehingga otot bisa bekerja pada tingkat yang lebih tinggi.
Rangka otot yang melekat pada tulang akan diaktifkan oleh rangsangan listrik dari sistem saraf. Ketika dirangsang, otot akan kontraksi yang berarti mempersingkat waktu serta mengencangkan otot. Hal inilah yang membuat seseorang bisa mengangkat barang besar atau melemparkan pukulan.
Adrenalin juga memfasilitasi perubahan glikogen menjadi glukosa yang berarti memberikan energi tambahan bagi otot. Hal ini tentu saja bisa memperkuat otot yang sudah ada.
Beberapa teori menunjukkan manusia hanya menggunakan sebagian kecil kekuatan ototnya. Tapi ketika dihadapkan pada bahaya, seseorang bisa bertindak dengan kekuatan yang melampaui keterbatasan kemampuannya.
Rahasianya ada pada kerjasama dua hormon tubuh yakni adrenalin (epinefrin) dan noradrenalin (norepinefrin), yaitu hormon yang menciptakan keadaan agar bisa membantu kesiapan manusia untuk menghadapi bahaya.
Jadi ketika seseorang merasa takut atau dihadapkan pada situasi yang berbahaya tubuh akan merangsang hipotalamus, yaitu daerah di otak yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan antara stres dan relaksasi di dalam tubuh.
Saat ada peringatan bahaya, tubuh akan mengirimkan sinyal kimia ke kelenjar adrenalin untuk mengaktifkan sistem simpatik. Kelenjar ini kemudian akan mengeluarkan adrenalin dan noradrenalin.
Seperti dikutip dari Howstuffworks, hormon-hormon ini secara bersama-sama bisa meningkatkan denyut jantung, napas yang cepat, pupil mata membesar, memperlambat pencernaan serta memungkinkan otot untuk berkontraksi lebih besar dari biasanya.
Pelepasan hormon ini membuat tubuh lebih siap menghadapi bahaya, sehingga membuat seseorang menjadi lebih gesit, mendapatkan informasi lebih banyak serta membantu seseorang menggunakan lebih banyak energi.
Efek dari adrenalin meningkatkan jumlah massa otot dan kekuatan yang luar biasa. Adrenalin ini juga memungkinkan otot bekerja lebih kuat dibandingkan ketika tubuh dalam keadaan netral atau tenang.
Ketika adrenalin dilepaskan oleh adrenal medulla, darah menjadi lebih mudah mengalir ke otot yang berarti lebih banyak oksigen yang dibawa ke otot sehingga otot bisa bekerja pada tingkat yang lebih tinggi.
Rangka otot yang melekat pada tulang akan diaktifkan oleh rangsangan listrik dari sistem saraf. Ketika dirangsang, otot akan kontraksi yang berarti mempersingkat waktu serta mengencangkan otot. Hal inilah yang membuat seseorang bisa mengangkat barang besar atau melemparkan pukulan.
Adrenalin juga memfasilitasi perubahan glikogen menjadi glukosa yang berarti memberikan energi tambahan bagi otot. Hal ini tentu saja bisa memperkuat otot yang sudah ada.
Beberapa teori menunjukkan manusia hanya menggunakan sebagian kecil kekuatan ototnya. Tapi ketika dihadapkan pada bahaya, seseorang bisa bertindak dengan kekuatan yang melampaui keterbatasan kemampuannya.
By : Yosar M.P
Teleportasi Ditemukan! (Pada Cahaya)
0
Teleportasi terkait dengan sifat dua partikel yang dapat disatukan sekalipun terpisah jauh. Kedua partikel dapat berkomunikasi secara instan.
Untuk melakukan teleportasi cahaya, para peneliti yang dipimpin Noriyuki Lee dari Universitas Tokyo menghancurkan partikel di satu tempat dan menciptakan kembali di lokasi lain.
Ini mirip dengan proses teleportasi dalam film Star Trek yang menampakkan alat teleportasi memindai seseorang, atom demi atom, menghancurkan, dan kemudian membangun kembali orang dengan pola sama.
Lee dan tim memindahkan cahaya dengan "mengaitkan" satu paket cahaya dengan separuh partikel lain, kemudian menghancurkan.
Partikel yang tersisa merekam "hubungan" dengan partikel lain tadi, termasuk informasi tentang cahaya sehingga memungkinkan peneliti untuk membangun kembali cahaya dengan konfigurasi persis di tempat lain.
Memindahkan obyek dengan teleportasi seperti dalam fiksi ilmiah
ruang angkasa ternyata sudah dilakukan ilmuwan meski sebatas memindahkan
seberkas cahaya.
Teleportasi terkait dengan sifat dua partikel yang dapat disatukan sekalipun terpisah jauh. Kedua partikel dapat berkomunikasi secara instan.
Untuk melakukan teleportasi cahaya, para peneliti yang dipimpin Noriyuki Lee dari Universitas Tokyo menghancurkan partikel di satu tempat dan menciptakan kembali di lokasi lain.
Ini mirip dengan proses teleportasi dalam film Star Trek yang menampakkan alat teleportasi memindai seseorang, atom demi atom, menghancurkan, dan kemudian membangun kembali orang dengan pola sama.
Lee dan tim memindahkan cahaya dengan "mengaitkan" satu paket cahaya dengan separuh partikel lain, kemudian menghancurkan.
Partikel yang tersisa merekam "hubungan" dengan partikel lain tadi, termasuk informasi tentang cahaya sehingga memungkinkan peneliti untuk membangun kembali cahaya dengan konfigurasi persis di tempat lain.
By : Yosar M.P
Ilmuwan Temukan Zat Kimia Pada Otak Penyebab Gay (Homo)
0
Tak ada yang mengetahui pasti pendorong preferensi seksual
seseorang. Namun, berdasar ujicoba terbaru ilmuwan China, ditemukan zat otak
pendorong orang menjadi gay.
Serotonin diketahui mampu mempengaruhi perilaku seksual pada tikus dan manusia. Senyawa ini biasanya juga mengurangi aktivitas seksual seseorang.
Serotonin diketahui mampu mempengaruhi perilaku seksual pada tikus dan manusia. Senyawa ini biasanya juga mengurangi aktivitas seksual seseorang.
Ujicoba ahli saraf Yi Rao dari Peking University dan National
Institute of Biological Science di Beijing menunjukkan, serotonin ternyata juga
mempengaruhi keputusan pria untuk ‘menggoda’ wanita atau pria.
Rao dan tim melakukan uji melalui pengurangan neuron penghasil serotonin atau protein penting penghasil serotonin dalam otak. Tak seperti tikus jantan lain, tikus yang kekurangan serotonin tak memiliki hasrat seksual terhadap tikus betina.
Sebaliknya, tikus itu malah tertarik pada tikus jantan serta lebih sering menyanyikan lagu cinta ultrasonik. Biasanya, tikus jantan menyanyikan lagu ini untuk menggoda tikus betina agar bisa melakukan seks.
Ketika tim menyuntik zat netralisir pada tikus yang kekurangan serotonin, tikus kembali berhasrat pada tikus betina. Meski begitu, kadar serotonin berlebih justru mengurangi aktivitas seksual tikus, baik pada jantan maupun betina.
Artinya, serotonin dalam otak harus dijaga dalam kadar tertentu guna memastikan seseorang tetap berlaku layaknya heteroseksual.
Menyikapi temuan ini, ilmuwan Florida State University Elaine Hull mengklaim, studi ini bisa mempengaruhi perilaku homoseksual atau biseksual manusia.
Sebelum menyimpulkan serotonin sebagai faktor perilaku homoseksual, Hull memperingatkan, ilmuwan butuh lebih banyak informasi letak persisnya area otak terkait potensi pengembangan serotonin tersebut.
Rao dan tim melakukan uji melalui pengurangan neuron penghasil serotonin atau protein penting penghasil serotonin dalam otak. Tak seperti tikus jantan lain, tikus yang kekurangan serotonin tak memiliki hasrat seksual terhadap tikus betina.
Sebaliknya, tikus itu malah tertarik pada tikus jantan serta lebih sering menyanyikan lagu cinta ultrasonik. Biasanya, tikus jantan menyanyikan lagu ini untuk menggoda tikus betina agar bisa melakukan seks.
Ketika tim menyuntik zat netralisir pada tikus yang kekurangan serotonin, tikus kembali berhasrat pada tikus betina. Meski begitu, kadar serotonin berlebih justru mengurangi aktivitas seksual tikus, baik pada jantan maupun betina.
Artinya, serotonin dalam otak harus dijaga dalam kadar tertentu guna memastikan seseorang tetap berlaku layaknya heteroseksual.
Menyikapi temuan ini, ilmuwan Florida State University Elaine Hull mengklaim, studi ini bisa mempengaruhi perilaku homoseksual atau biseksual manusia.
Sebelum menyimpulkan serotonin sebagai faktor perilaku homoseksual, Hull memperingatkan, ilmuwan butuh lebih banyak informasi letak persisnya area otak terkait potensi pengembangan serotonin tersebut.
By : Yosar M.P
Penyebab Orang Tidak Punya Rasa Malu
0
Seringkali kita mendengar kalimat, 'Dasar tak tahu malu', atau
'Sudah putus urat malunya' yang ditujukan pada orang-orang yang dinilai tak
punya rasa malu. Hati-hati jika sudah mulai hilang rasa 'malunya' karena itu
artinya ada bagian di otak yang sudah mengalami kerusakan.
Ilmuwan dari University of California, San Francisco dan University
of California, Berkeley berhasil mengungkapkan bagian mana dari otak yang
sangat bertanggungjawab terhadap muncul tidaknya rasa malu.
Menurut penelitinya Virginia Sturm, timnya telah mengidentifikasi adanya bagian otak di sebelah kanan depan yang disebut 'pregenual anterior cingulate cortex' sebagai penyebab kunci rasa malu manusia.
"Ini adalah wilayah otak yang bisa memprediksi perilaku seseorang. Semakin kecil bagian otak ini maka semakin sedikit orang punya rasa malu," kata Virginia seperti dilansir dari Sciencedaily.
Pusat malu di bagian 'pregenual anterior cingulate cortex' ini posisinya berada jauh di dalam otak yakni sebelah kanan depan. Fungsi lain dari bagian otak ini antara lain mengatur detak jantung dan pernapasan, emosi, perilaku kecanduan dan pengambilan keputusan.
Maka itu pada orang yang otaknya sehat, ketika merasa malu bagian otak ini akan berfungsi maksimal. Rasa malunya akan membuat tekanan darah menjadi naik, detak jantung meningkat atau terjadi perubahan napas.
Tapi pada orang yang memiliki rasa malu yang rendah seperti pada penderita Alzheimer atau demensia (pikun), otak di bagian ini ukurannya lebih kecil dari biasanya.
Mereka umumnya menjadi lebih acuh terhadap hal-hal yang menurut orang memalukan karena bagian otak 'pregenual anterior cingulate cortex' seperti 'dibutakan' terhadap rasa malu.
"Bila Anda kehilangan kemampuan otak di daerah ini, Anda akan kehilangan respons rasa malu," kata Virginia seperti dikutip LiveScience.
Para ilmuwan meyakini bahwa semakin besar wilayah otak tertentu maka semakin kuat kerja otak yang terkait dengan fungsinya itu.
Contohnya, orang dengan kepribadian terbuka (ekstrovert) memiliki pusat pengolahan otak yang lebih besar, sedangkan orang yang gampang cemas punya pusat deteksi kesalahan yang lebih besar.
Dalam melakukan penelitian tersebut, peneliti meminta 79 partisipan untuk menyanyi karaoke lagu 'My Girl', lagu hit tahun 1964 yang dinyayikan Temptations. Partisipan itu ada yang sehat dan ada yang menderita penyakit saraf degeneratif.
Suara partisipan direkam dan diputar ulang tanpa ada ada suara musik yang menyertainya. Partisipan yang malu dengan suaranya langsung terlihat dari ekspresi wajahnya, kemudian berkeringat dan detak jantung meningkat.
Sebaliknya penderita yang mengalami gangguan saraf terlihat acuh dan kurang punya rasa malu meskipun ketika didengarkan suara mereka sangat memalukan.
Hasil temuan ini telah disampaikan Virginia dalam pertemuan tahunan American Academy of Neurology ke-64 di Hawaii pada 14 April 2011.
Menurut penelitinya Virginia Sturm, timnya telah mengidentifikasi adanya bagian otak di sebelah kanan depan yang disebut 'pregenual anterior cingulate cortex' sebagai penyebab kunci rasa malu manusia.
"Ini adalah wilayah otak yang bisa memprediksi perilaku seseorang. Semakin kecil bagian otak ini maka semakin sedikit orang punya rasa malu," kata Virginia seperti dilansir dari Sciencedaily.
Pusat malu di bagian 'pregenual anterior cingulate cortex' ini posisinya berada jauh di dalam otak yakni sebelah kanan depan. Fungsi lain dari bagian otak ini antara lain mengatur detak jantung dan pernapasan, emosi, perilaku kecanduan dan pengambilan keputusan.
Maka itu pada orang yang otaknya sehat, ketika merasa malu bagian otak ini akan berfungsi maksimal. Rasa malunya akan membuat tekanan darah menjadi naik, detak jantung meningkat atau terjadi perubahan napas.
Tapi pada orang yang memiliki rasa malu yang rendah seperti pada penderita Alzheimer atau demensia (pikun), otak di bagian ini ukurannya lebih kecil dari biasanya.
Mereka umumnya menjadi lebih acuh terhadap hal-hal yang menurut orang memalukan karena bagian otak 'pregenual anterior cingulate cortex' seperti 'dibutakan' terhadap rasa malu.
"Bila Anda kehilangan kemampuan otak di daerah ini, Anda akan kehilangan respons rasa malu," kata Virginia seperti dikutip LiveScience.
Para ilmuwan meyakini bahwa semakin besar wilayah otak tertentu maka semakin kuat kerja otak yang terkait dengan fungsinya itu.
Contohnya, orang dengan kepribadian terbuka (ekstrovert) memiliki pusat pengolahan otak yang lebih besar, sedangkan orang yang gampang cemas punya pusat deteksi kesalahan yang lebih besar.
Dalam melakukan penelitian tersebut, peneliti meminta 79 partisipan untuk menyanyi karaoke lagu 'My Girl', lagu hit tahun 1964 yang dinyayikan Temptations. Partisipan itu ada yang sehat dan ada yang menderita penyakit saraf degeneratif.
Suara partisipan direkam dan diputar ulang tanpa ada ada suara musik yang menyertainya. Partisipan yang malu dengan suaranya langsung terlihat dari ekspresi wajahnya, kemudian berkeringat dan detak jantung meningkat.
Sebaliknya penderita yang mengalami gangguan saraf terlihat acuh dan kurang punya rasa malu meskipun ketika didengarkan suara mereka sangat memalukan.
Hasil temuan ini telah disampaikan Virginia dalam pertemuan tahunan American Academy of Neurology ke-64 di Hawaii pada 14 April 2011.
By : Yosar M.P
Apakah Hitam dan Putih itu adalah Warna?
0
Mari kita lihat dari beberapa perspektif. Pertama, kita mesti kembali pada pemahaman dasar tentang bagaimana warna tercipta. Ada dua contoh tentang bagaimana warna menjadi ada: benda nyata dan benda tidak nyata (dalam tv).
Televisi hitam-putih tidak disebut tv berwarna, bukan? Masuk akal.
Namun, ternyata pertanyaan di atas adalah salah satu isu yang paling
diperdebatkan.
Kalau yang ditanya seorang ilmuwan, Anda akan mendapatkan jawaban fisika: "Hitam bukan warna, putih adalah warna." Bertanya kepada seniman, Anda akan mendapat jawaban lain: "Hitam adalah warna, sedangkan putih bukan". Waduh, mana yang betul?
Kalau yang ditanya seorang ilmuwan, Anda akan mendapatkan jawaban fisika: "Hitam bukan warna, putih adalah warna." Bertanya kepada seniman, Anda akan mendapat jawaban lain: "Hitam adalah warna, sedangkan putih bukan". Waduh, mana yang betul?
Mari kita lihat dari beberapa perspektif. Pertama, kita mesti kembali pada pemahaman dasar tentang bagaimana warna tercipta. Ada dua contoh tentang bagaimana warna menjadi ada: benda nyata dan benda tidak nyata (dalam tv).
By : Yosar M.P
Misteri Doppleganger, Kembaran yang Misterius
0
Apakah kita memiliki
kembaran di dunia ini? Apakah kita dapat berada di dua tempat pada saat yang
sama? Dalam sejarah, ada banyak catatan mengenai orang-orang yang mengaku
berjumpa dengan bayangan dirinya sendiri. Fenomena ini sering disebut dengan
istilah doppelganger.
Doppelganger berasal dari kata Jerman yang berarti "Double Walker". Istilah ini digunakan untuk merujuk kepada bayangan diri yang dipercaya menyertai setiap manusia di bumi ini.
Doppelganger berasal dari kata Jerman yang berarti "Double Walker". Istilah ini digunakan untuk merujuk kepada bayangan diri yang dipercaya menyertai setiap manusia di bumi ini.
By : Yosar M.P





